Dalam kitab Al-Mahabbah, Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa cinta kepada Allah adalah tujuan puncak dari seluruh maqam spiritual dan ia menduduki darjat/level yang tinggi.
Menurut Sang Hujjatul Islam ini perkataan mahabbah berasal dari kata hubb yang sebenarnya mempunyai asal kata habb yang mengandungi erti biji atau inti. Sebahagian sufi mengatakan bahawa hubb adalah awal sekaligus akhir dari sebuah perjalanan keberagamaan kita. Kadang kadang kita berbeza dalam menjalankan syariat kerana mazhab/aliran. Cinta kepada Allah -yang merupakan inti ajaran tasawuf- adalah kekuatan yang mampu menyatukan perbezaan-perbezaan itu.
Bayazid Bustami sering mengatakan: "Cinta adalah melepaskan apa yang dimiliki seseorang kepada Kekasih (Allah) meskipun ia besar; dan menganggap besar apa yang diperoleh kekasih, meskipun itu sedikit." Kata-kata arif dari sufi pencetus doktrin fana' ini dapat kita artikan bahwa ciri-ciri seorang yang mencintai Allah pertama adalah rela berkorban sebesar apapun demi kekasih. Cinta memang sama dengan pengorbanan, bahkan dengan mengorbankan jiwa dan raga sekalipun. Hal ini sudah di buktikan oleh Nabi Muhammad Saw., waktu ditawari kedudukan mulia oleh pemuka Quraisy asalkan mahu berhenti berdakwah. Dengan semangat cintanya yang menyala-nyala pada Allah Swt., Rasulullah mengatakan kepada pakciknya: "Wahai pakcikku, demi Allah seandainya matahari mereka letakkan di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku supaya aku berhenti meninggalkan tugasku ini, maka aku tidak mungkin meninggalkannya sampai agama Allah menang atau aku yang binasa". Ciri kedua dari pecinta adalah selalu bersyukur dan menerima terhadap apa- apa yang diberikan Allah. Bahkan ia akan selalu reda terhadap Allah walaupun cubaan berat menimpanya.
Jiwa para pecinta rindu untuk berjumpa dan memandang wajah Allah yang Maha Agung..
"Solat adalah mi'rajnya orang beriman" begitulah bunyi sabda Nabi Saw. untuk menisbatkan kualiti solat bagi para pecinta. Solat merupakan puncak pengalaman rohani di mana roh para pecinta akan naik ke sidratul muntaha, tempat tertinggi di mana Rasulullah di undang langsung untuk bertemu dengan-Nya. Seorang Aqwiya (orang-orang yang kuat kecintaannya pada Tuhan) akan menjalankan solat sebagai medium untuk melepaskan rindu mereka kepada Rabbnya, sehingga mereka senang sekali menjalankannya dan menanti-nanti saat solat untuk waktu berikutnya, bukannya sebagai tugas atau kewajiban yang sifatnya memaksa.
Mencintai Allah Swt. mampu dipelajari lewat tanda-tanda-Nya yang tersebar di seluruh ufuk alam semesta. Pada saat yang sama, pemahaman dan kecintaan kepada Allah ini kita manifestasikan ke bentuk yang lebih nyata dengan amal soleh dan akhlakul karimah yang berorientasi dalam segenap aspek kehidupan.
